Suatu hari, di sebuah rumah kecil di sudut desa Whiteland, Gilbert sedang melamun.
Gilbert adalah seorang tukang kayu bertubuh gemuk. Wajahnya dipenuhi janggut tebal berwarna cokelat seperti rambutnya yang acak-acakan. Sehari-hari ia mengenakan kemeja putih, rompi hijau, dan celana jeans ketat yang membuatnya tampak menggelembung seperti balon. Sepatu kulitnya tampak mungil—kakinya agak kecil untuk ukuran tubuh seperti itu.
Setiap hari, Gilbert bekerja memotongi kayu sesuai pesanan penduduk desa Whiteland; untuk pagar, untuk meja, untuk mainan anak-anak. Ia tak pernah berpikir—atau tak pernah sempat—untuk istirahat, karena hampir setiap waktu pesanan selalu saja datang. Tapi ia melayani pesanan-pesanan itu dengan senang hati, tanpa pernah mengeluh. Pernah suatu kali, karena ketekunannya bekerja, raja Whiteland mengirim seorang prajurit ke rumahnya untuk meminta Gilbert memotong kayu—untuk sebuah lemari sandal kerajaan!
Pada hari yang cerah ini, ia sedang duduk di samping jendela, menghadap keluar. Aneh, pikir Gilbert. Hari ini tidak ada satu orang pun yang datang ke rumahnya. Matahari sudah lewat dari atas kepala, tapi belum ada satu pun pesanan untuk membuat meja, kursi, atau yang lainnya.
Dalam hati, Gilbert merasa senang.
"Mungkin Tuhan memang memperhatikanku," katanya gembira. "Aku senang bekerja, tapi aku juga butuh istirahat. Ia memberikanku satu hari untuk beristirahat dengan tenang. Yah, sebaiknya aku menggunakan waktu yang ada ini sebaik-baiknya."
Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke kursi panjang buatannya sendiri yang terletak di sebelah pintu depan. Ia membersihkan serpih-serpih kayu—yang kelihatannya melayang ke sana ketika ia bekerja—dan merebahkan diri di atasnya. Begitu nyaman. Dalam hitungan detik, Gilbert sudah terlelap.
Dalam tidurnya, ia bermimpi berada di sebuah ruangan dengan makanan yang belum pernah ia lihat. Daging asap, ayam, sup jamur, semua dengan wangi yang begitu menggiurkan. Makanan itu disajikan di atas sebuah meja emas, dan di satu sisinya terdapat satu tempat duduk, dengan piring, sendok, dan garpu emas di hadapannya, yang semuanya juga terbuat dari emas berkilauan.
"Di mana aku?" tanya Gilbert dalam hati.
Tiba-tiba, sendok dan garpu emas itu melompat dan berdiri tegak di atas meja. Mereka mulai bernyanyi:
"Ask not for where you are,
O great man of honor.
Let us now fill your belly,
as full as it can be."
Sendok dan garpu emas itu berhenti bernyanyi. Seakan ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya, Gilbert meluncur pelan ke tempat duduk itu. Sebuah serbet melayang dan melingkari lehernya dengan rapi. Ia tak tahu kenapa tetapi ia senang; sendok dan garpu sudah ada di tangannya dan ia sudah ingin menyantap makanannya ketika—
Gilbert mendengar seseorang mengetuk pintu depan. Dengan agak menyesal ia terbangun; ia hampir bisa merasakan lezatnya sup jamur itu. Ia bangkit dan membuka pintu. Tak ada siapa pun.
Menggerutu, ia sudah akan menutup pintu ketika ia melihat ada sebuah keranjang di bawahnya. Keranjang itu ditutupi kain. Gilbert membawa keranjang itu masuk dan membukanya. Ia terkejut; keranjang itu penuh berisi buah-buahan dan sayuran yang masih segar.
"Siapa yang menaruh keranjang ini?" tanya Gilbert heran. Ia keluar sekali lagi, berharap menemukan seseorang yang kehilangan keranjang sayurannya. Tetapi tidak ada. Ia kembali ke dalam dan memandangi keranjang tersebut. Ia mengangkat bahu, tetapi ia bersyukur. Ia memang sedang tak punya apa-apa untuk makan malam hari itu. Gilbert menyimpan keranjang tersebut di dapur.
Esoknya, hari masih sepi. Tak juga ada pesanan yang datang. Karena tak ada yang bisa dilakukan, Gilbert kembali tidur siang di kursi panjangnya.
Seperti kemarin, ia bermimpi lagi. Dalam mimpinya, Gilbert berada di ruangan yang sama, hanya saja di atas meja bukan lagi makanan—tapi setumpuk berlian! Berlian besar-besar yang berkilau, yang Gilbert tak pernah lihat, tapi ia tahu bahwa itu sangat berharga.
"Di mana aku?" tanya Gilbert dalam hati.
Kali ini, lima buah berlian mulai berlompatan dan bernyanyi:
"Ask not for where you are,
O great man of hard-work.
Let us now fill your pocket,
as full as it can be."
Berlian-berlian itu jatuh dan terdiam. Gilbert menghampiri meja penuh berlian itu dan—
Pintunya diketuk lagi. Dan lagi-lagi, Gilbert terbangun. Ia membuka pintu—tak ada siapa-siapa—dan menengok ke bawah. Ada kantung kecil berwarna abu-abu yang diikat dengan tali. Ketika ia mengangkatnya, terdengar bunyi gemerincing. Gilbert membukanya dan terkejut ketika mendapati bahwa isinya adalah tumpukan uang emas!
Gilbert, sebagai orang yang jujur, berharap bahwa ada yang menjatuhkan kantung ini. Dan kalau memang ada, orang itu pasti sedang kesusahan. "Lebih baik aku menyimpannya terlebih dahulu," pikir Gilbert. Tapi karena tak ada seorang pun yang kunjung datang mencarinya, ia pikir ini adalah berkah dari Tuhan, dan tak lupa ia bersyukur.
Tapi ia masih heran, siapa orang yang setiap hari mengetuk pintunya dan meninggalkan barang-barang itu di depan rumahnya? Dan apakah kejadian-kejadian itu berhubungan dengan mimpinya? Ia bertekad akan mencari tahu.
Hari selanjutnya, masih belum ada pekerjaan yang datang padanya. Tetapi hari ini ia berniat untuk bertemu dengan orang yang meninggalkan keranjang makanan dan kantung uang itu. Rencananya, ia akan berpura-pura tidur dan menangkap si pelaku ketika ia datang.
Ia menjalankan rencananya siang itu. Ia memejamkan matanya ketika ia merasa ada orang yang mengintip dari jendelanya. "Itu pasti dia," kata Gilbert dalam hati. Orang itu segera menghilang dari jendela karena sudah yakin bahwa Gilbert sedang tidur pulas, padahal saat itu Gilbert berjingkat ke arah pintu depan. Dan ketika ketukan pertama terdengar, Gilbert langsung membuka pintunya.
Berdiri di depannya seorang anak laki-laki yang terkejut. Karena ketahuan, ia tersenyum bersalah dan berkata "Selamat siang, Tuan."
"Well, anak kecil. Kau kah yang menaruh keranjang sayuran itu di sini?"
Anak itu mengangguk.
"Dan kau juga kah yang menaruh kantung uang itu?"
Anak itu mengangguk lagi.
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Yah, Tuan," kata anak itu takut-takut. "Penduduk desa Whiteland yang menyuruhku."
"Mereka menyuruhmu? Untuk apa?" tanya Gilbert penasaran.
"Yah, mereka bilang... Anda sudah baik... dan, yah... giat bekerja... jadi mereka memutuskan untuk memberikan sedikit penghargaan kepada Anda," jelas anak itu. "Apakah Anda marah, Tuan Gilbert?"
"Marah!" kata Gilbert tertawa. "Ya, aku sangat marah. Aku marah kepada dirimu, anak kecil, karena tidak memberikanku kesempatan untuk berterima kasih kepada kau dan mereka semua yang sudah bersusah payah untuk membantu pria tua ini.
"Sekarang, pergilah," perintah Gilbert kepada anak kecil itu. "Dan katakan kepada penduduk desa Whiteland bahwa aku tidak apa-apa, dan—apakah mereka juga sengaja tidak memberikan pesanan kepadaku?" Ketika anak itu mengangguk, Gilbert menambahkan: "Kalau begitu, katakan juga pada mereka bahwa aku bisa mati kalau tidak bekerja lagi. Maukah kau melakukan itu untukku, nak?"
"Tentu saja, Tuan!" sahut anak itu. Ia lalu berlari pergi. Gilbert tersenyum dan kembali duduk di kursinya di dekat jendela. Ia memandang ke hamparan desa Whiteland yang kecil itu, dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah membuat hidupnya begitu bahagia.
Esoknya, Gilbert memotong kayu lagi.
Ahh... I love it!!!
ReplyDeletePlease write another one, booob :D
*gaya anak kecil merajuk krn dongengnya habis*
oh, this is Agnesstasha by the way...